Bertemu Dana

Enam bulan sudah sejak perpisahanku dengan Dito yang menyakitkan.  Terlebih lagi jika mengingat hubungan kami sebenarnya sudah sangat serius.  Bahkan rencana pernikahan sudah sering dibicarakan diantara keluarga kami. Hubunganku dengan orang tua Dito sudah demikian dekat.


Tak bisa kubayangkan jika Dito menyampaikan kepada orang tuanya alasan dia memutuskan hubungan kami. Bagaimana mungkin gadis baik-baik berjilbab yang mereka sayangi ini ternyata luar biasa binal, bahkan saat putus dengan anaknyapun penuh belepotan air mani.

Untunglah Dito masih punya sisa-sisa kebaikan. Dia cuma bilang bahwa kami sangat tidak cocok.

Well, enam bulan gak ketemu kontol. Enam bulan gak ada yang jilatin memek. Kangennya luar biasa. Tapi untuk memulai hubungan lagi rasanya juga gampang. Trauma dengan sikap Dito setelah menerima kenikmatan dariku membuatku semakin ragu untuk pacaran lagi.

Tapi kemudian semuanya berubah. Aku dipindah tugaskan sebagai staff administrasi khusus untuk event-event seminar wilayah Jakarta. Hal ini menyebabkan aku sering terlibat langsung dengan penyelenggaraan event, bahkan sampai menginap di hotel tempat penyelenggaraan.

Pada saat event-event ini lah aku sering bertemu Dana salah seorang Staff yang biasa mengurus operasional event. Seringnya kami kerja bersama-sama dalam sebuah event membuat kami tambah akrab. Keakraban itu berlanjut tidak hanya di tempat event, tapi juga ke kantorku. Setiap hari kami makan siang bareng, walaupun untuk pulang bareng masih belum menjadi rutinitas. Dana tidak terlalu ganteng jika dibandingkan dengan mantan-mantanku dulu. Secara fisik hampir tidak ada yang istimewa. Namun wajah teduhnya membuat aku nyaman berada di dekatnya.

Sangat terlihat bahwa Dana belum banyak pengalaman soal perempuan. Seringkali Dana terlihat canggung jika aku mengajaknya bicara yang agak nyerempet-nyerempet bahaya. Wajahnya terlihat tersipu, dan aku tahu itu bukan pura-pura. Satu lagi, Dana sangat Sholeh. Aku tidak pernah melihatnya meninggalkan Sholat. Bahkan jika kebetulan aku datang ke kantor agak pagi, kerap aku memergoki ana sedang Sholat Duha. Melihat kenyataan itu, tipis rasanya harapanku untuk merasakan kontolnya. Tapi di lain sisi, aku berharap Dana bisa menjadi calon suamiku.

Suatu ketika, kembali kantorku menyelenggarakan event seminar. Dan seperti biasanya aku ditugaskan langsung dimulai sejak persiapan.

Saat itu seluruh team yang bertugas diberi fasilitas menginap di Hotel dimana event tersebut diselenggarakan. Tentunya karyawan wanita sekamar dengan yang wanita. Sebaliknya karyawan pria dengan karyawan pria. Dan tidak ada satupun dari kami yang kebagian sekamar sendirian. Sehingga tipis kemungkinan aku bisa tidur bareng Dana.

Dana mendapat kamar di lantai 4 sekamar dengan Baron sedangkan aku menempati kamar dilantai 5 sekamar dengan rekanku nani yang bertugas sebagai kasir.

Persiapan baru selesai sekitar pukul 9 malam. Saat akan kembali kekamar Baron mengajak Dana untuk mencari makan di luar saja. Alasannya makanan di kamar disamping mahal rasanya juga gak nendang. Aku agak malas untuk makan diluar karena rasanya sudah sangat letih dan ingin segera rebahan untuk istirahat.

Sesampai di kamar aku segera mengganti pakaian dengan daster panjang tanpa lengan dimana didalamnya aku tidak mengenakan apa-apa lagi. Sebenarnya aku lebih suka tidur telanjang bulat. Namun karena aku tidak sendirian, terpaksa kututupi tubuh bugilku dengan daster panjang.

Rasanya belum lama aku memejamkan mata ketika HP ku berbunyi. Ah.. Dana. Ngapain malam-malam gini telpon ?

“Ya Dan… ada apa?” tanyaku dengan suara agak serak-serak bangun tidur.

“Udah tidur ya. Aku beliin martabak nih. Mau gak ?”

“Aku udah kenyang Dan. Nggak usah deh” jawabku malas-malasan. Malam-malam gini makan martabak? bisa gendut aku.

“Yaaah… sayang donk. Ya udah, temenin kita makan aja yuk. Sambil ngobrol-ngobrol”. Sebenarnya aku masih sangat ngantuk. Tapi ngobrol-ngobrol dengan Dana di kamar? Sayang kalau dilewatkan.

“Iya deh. Tunggu sebentar ya”, Aku segera bergegas bangkit dari kasur. Kukenakan kembali Jilbabku. Aku sempat bimbang apakah aku harus ganti baju, pakai celana dalam dan BH, atau gak usah aja. Kupandangi sejenak tubuhku melalui cermin. Rasanya tidak akan terlihat kalau aku tidak pakai celana dalam. Tapi BH? wow, pentil susuku jelas sekali terlihat. Lagipula daster ini tanpa lengan. Bisa rusak image ku nanti.

Akhirnya kukenakan jaket dan kukancingkan rapat untuk menutupi dada serta lenganku yang terbuka. Yup. Cukup tertutup lah. Jadi aku tidak perlu ganti baju.

Yakin dengan dandananku yang cukup tertutup, segera aku keluar menuju kamar Dana di lantai 4.

Sama seperti kamarku, kamar Dana memiliki dua buah tempat tidur yang dipisahkan oleh meja kecil di tengah-tengahnya. Sesampainya aku di sana ternyata mereka sedang makan nasi goreng di atas tempat tidurnya masing-masing. Aku segera menghampiri Dana dan duduk dikasur berdekatan dengan Dana.

Selesai makan kami lanjutkan ngobrol-ngobrol. Dana pindah duduk dikursi sementara Baron tetap duduk di kasurnya. Sedangkan aku dengan santai duduk di kasur Dana bersandarkan bantal yang kususun tinggi.

Jujur saja, isi obrolan sangat membosankan. Apalagi Baron. Omongannya gak ada yang menarik. Jokenya pun garing banget. Seandainya bukan karena Dana, aku pasti sudah balik kekamar. Tapi kesempatan berdekatan begini sayang rasanya kalau kulewatkan begitu saja.

Untunglah setelah sekitar sejam ngobrol gak jelas, Baron ngantuk dan pamit tidur duluan. Dia langsung masuk ke balik selimut dan tidur miring menghadap tembok. Ah, asiiik…. aku tinggal berdua dengan Dana.

Kutunggu sesaat sampai kira-kira Baron sudah tertidur. Setelah kulihat tak ada tanda-tanda kehidupan, kubuka kancing jaketku hingga tubuh bagian depanku yang terbungkus daster bisa terlihat. Terutama bentuk dada besarku serta putingnya pasti tercetak dengan jelas.

Berkali-kali kulihat Dana menatap dadaku sekilas, kemudian langsung memalingkan wajahnya. Aku yakin Dana bisa melihat bentuk dadaku, dan aku yakin dia tahu kalau aku tidak pakai BH. Terlihat sekali dia canggung dengan keadaan pakaianku. Wah, bagaimana kalau dia tahu aku tidak pakai celana dalam ya?

“Dan, ngobrolnya sini donk. Jangan jauh-jauhan gitu. Kayak musuhan aja” ajakku ketika kulihat Dana tidak juga mengambil inisiatif.

“Ayo sini. Gak akan aku gigit deh. Kecuali kamu yang minta” ajakku lagi saat Dana tidak juga bereaksi. Akhirnya Dana bangkit pindah duduk disebelahku.

Terasa sekali Dana sangat canggung duduk berdekatan di atas tempat tidur berduaan denganku. Aku jadi tersenyum geli melihat tingkahnya yang serba salah itu.

Kugeser dudukku lebih dekat dan menghadap dia. Kuusap kepalanya lembut sambil terus ngobrol ngalor ngidul. Saat bercerita, sesekali siku lengan Dana menyenggol dadaku yang tanpa BH. Dana semakin gelisah.

Tidak tahan dengan sikapnya yang pasif, segera kuraih kepala Dana dan kucium bibirnya.

Beberapa kali kukecup-kecup bibirnya sampai akhirnya Dana mulai bisa menguasai keadaan. Tangannya mulai meraih pipiku sambil lidahnya bermain-main di mulutku.

Kemudian perlahan tangannya turun ke leherku, terus turun lagi sampai ke dadaku. Diremasnya dadaku perlahan. Ah… akhirnya bisa juga dia.

Aku benar-benar tidak tahan. Kudorong tubuh Dana hingga terlentang, lalu kutindih dia. Kuciumi  bibirnya dengan penuh gelora nafsu sambil memekku ku gesek-gesekkan ke kontolnya yang terasa sudah keras dibalik celana panjangnya.

Sedang seru-serunya kami bercumbu, tiba-tiba …

“Lin, kalo mau pacaran jangan disini. Gue gak bisa tidur dengerinnya…” terdengar suara Baron agak ketus walau wajahnya tetap menghadap tembok. Aku menghela nafasku yang sudah tersengal-sengal. Duuuuh… ganggu aja deh…

Terpaksa kami menghentikan kegiatan nikmat ini. Aku minta Dana untuk mengantarku ke kamar. Didalam Lift kembali ku cium Dana dengan penuh nafsu. Dana memelukku erat. Tiba-tiba tangannya meremas pantatku. Saat itulah dia sadar kalau aku tidak pakai celana dalam. Sayang, pintu lift keburu terbuka. Kami keluar dari lift dengan saling rangkul. Rupanya tangan Dana masih betah berdiam dipantatku. Kurasakan tangannya mengelus-elus pantatku dengan mesra.

Didepan pintu kembali kami berciuman. Kali ini Dana sangat bernafsu. Tangannya tidak henti meremas dadaku. Kurasakan kontolnya begitu keras menekan atas perutku.

“Dan… besok kita buka kamar aja yuk…” bisikku ditelinga Dana dengan nafas memburu. Dana menatap mataku sejenak. Terlihat dia agak ragu,

“Aku yang bayar deh. Mau yah… yah… yah…” bisikku lagi setengah memaksa. Akhirnya Dana mengangguk setuju. Kucium bibirnya lama sebelum akhirnya kulepaskan dan meninggalkannya berdiri didepan pintu.

—–><——-

Seharian ini kuikuti kegiatan seminar dengan tidak sabar. Pikiranku sudah tertuju pada rencana malam nanti. Saat break makan siang tadi aku sudah memesan kamar dilantai 8. Agak mahal memang, tapi yang penting terpisah jauh dari teman-temanku yang lain.

Begitu Seminar hari pertama selesai, aku langsung menghilang ke kamar. Kepada Nani teman sekamarku kukatakan bahwa malam ini aku tidak menginap. Padahal sesungguhnya aku pindah ke kamar yang telah kupesan.

Dikamar aku langsung melepas seluruh pakaianku hingga telanjang bulat. Semula aku akan menyambut Dana dengan tubuh bugil seperti ini. Tapi setelah kupikir lagi, rasanya terlalu ekstrim. Akhirnya aku memilih daster yang paling tipis. Setelah siap ku telpon Dana memintanya segera menemuiku di kamar.

Tak berapa lama kudengar bel berbunyi. Segera kubuka pintu, dan Dana tertegun memandangku.

Kutarik tangan Dana dan segera kututup pintu. Dana menatapku dengan takjub. Aku yang biasa berpakain serba tertutup kini berdiri dihadapannya hanya mengenakan daster tipis tanpa apa-apa lagi didalamnya.

Kudorong tubuh Dana hingga tersandar di pintu. Kupeluk dia, kucium dengan ganas. Dana sampai gelagapan menghadapi seranganku yang tiba-tiba.

Dengan tergesa dan penuh nafsu kupereteli kancing-kancing kemejanya. Lalu kubuka kemeja itu dan kulemparkan kelantai. Lidahku langsung menari-nari di lehernya. Kugigit-gigit kecil lehernya. Lalu kujilati mulai pangkal lehernya melewati jakun sampai ke dagunya. Kujilati berulang-ulang. Dana tidak bisa bisa berkata-kata selain ucapan uh-uh yang tidak jelas.

Lidahku meluncur ke dadanya. Kujilat pentil dadanya sambil kutarik-tarik dengan mulutku. Lalu kusedot kuat-kuat bergantian pentil kiri dan kanan. Selanjutnya aku merosot turun berjongkok dihadapannya. Kujilati pusarnya sambil tanganku membuka ikat pinggangnya. Kubuka kancing celananya, kubuka resletingnya lalu kuperosotkan celana panjangnya hingga ke mata kaki. Tampaklah tonjolan dibalik celana dalam putih yang sudah siap untuk dikulum.

Saat aku akan merenggut celana dalamnya, Dana mencegahku. Tubuhku ditarik berdiri, kemudian dia memelukku dengan kuat sambil kembali mencium bibirku. Tangannya meremas-remas pantatku.

Aku benar-benar tidak tahan. Kutarik tangannya menuju tempat tidur. Kudorong tubuhnya hingga jatuh telentang diatas tempat tidur. Kubuka dasterku dan berdiri telanjang bulat dihadapannya. Dana sampai melotot melihat tubuh telanjangku.  Tak menunggu lama lagi kutarik celana dalam Dana melewati kakinya dan kulempar entah kemana. Maka terlihatlah kontolnya yang sudah ngaceng sepenuhnya. Berdiri tegak menanti untuk di sedot.

Ukuran kontolnya biasa saja, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Tapi bagiku  yang sudah enam bulan tidak ketemu kontol, pemandangan dihadapanku ini menjadi begitu menggairahkan.

Kupanjat tubuh telanjang Dana. Kuciumi bibirnya dengan nafsu membara. Kutekan dadaku ke dadanya hingga gepeng. Lalu kugoyang-goyang pinggulku hingga memekku bergesekan dengan kontolnya.

Kugoyang pantatku maju mundur, membuat belahan memekku yang sudah basah meluncur lancar disepanjang batang kontolnya.

Tidak sampai dua menit aku menggesek memek kulihat Dana mengerang keras, dan… Crooootzzz air maninya menyembur membasahi perut kami berdua. Ah… kontol perjaka. Nyesel tadi gak aku isep aja. jadi kan air maninya gak mubazir terbuang percuma begini.

Sedikit kecewa aku beranjak ke kamar mandi membersihkan tubuhku dari semburan air mani Dana. Setelah itu aku kembali ke kamar sambil membawa handuk kecil.

Kubersihkan perut Dana dengan handuk kecil yang kubawa. Kubersihkan juga kontolnya yang sudah mulai mengecil.

Setelah itu aku berbaring disamping Dana. Kurebahkan kepalaku di bahunya sambil tanganku terus meremas-remas kontolnya. Aku berharap kontol Dana bisa cepat bangkit kembali.

Dan benar saja, tidak perlu berlama-lama kurasakan kontol itu semakin membesar. Kukocok-kocok terus kontolnya sampai benar-benar ngaceng. Setelah itu au langsung bangkit menindih tubuhnya lagi.

Aku berjongkok diatas kontolnya. Kuraih kontolnya dengan tanganku, lalu dengan nekat kugosok-gosok kepala kontolnya ke dalam belahan memekku. Aaaah… rasanya luar biasa nikmat. Ingin rasanya kumasukkan seluruh batang kontol ini kedalam memekku ketika tiba-tiba Dana meronta menghindari memekku.

“Jangan Lin. Gak boleh. Kita belom nikah…” wajah Dana terlihat tegang. Antara takut dosa dan kepengen dosa. Kurebahkan tubuhku menindih tubuhnya. Kukecup lembut pipinya.

“Iya aku tau. Aku juga masih perawan kok” ujarku sambil kemudian kukecup lembut bibirnya.

“Tapi kalo main-main dikit boleh kan?” aku tak menunggu jawabannya, tapi langsung melorot kebawah hingga wajahku berhadapan langsung dengan kontolnya.

Kuraih benda yang sudah lama kurindukan itu. Kuusap-usap, lalu kemudian ku jilat dari bawah keatas.  OOoooh.. akhirnya… ketemu kontol lagi…

Kusedot-sedot kepala kontolnya sambil lidahku menari-nari diseluruh permukaan kepala kontolnya. Lalu kumasukkan seluruh batang kontol itu kedalam mulutku. Karena kontol Dana tidak terlalu panjang, tidak sulit aku menelan seluruh batang kontolnya.

Kukocok-kocok kontol ngaceng itu dengan mulutku. Maju-mundur-maju-mundur, kuisap kuat-kuat sambil kutarik sampai hampir terlepas. Lalu kuisap lagi kuat-kuat sambil menelan kontolnya.

Belum lama kontol itu kuisap, kurasakan denyutan-denyutan yang sudah sangat ku kenal. Ah cepat sekali….

Langsung ku isap-isap dengan kuat dan cepat, dan… crooot.. crooot.. crooot terasa semburan yang sangat kuat menerpa mulutku. Kutelan semua cairan yang menyembur itu sambil terus ku sedot-sedot kepala kontolnya dengan kuat. Kontol itu baru kulepaskan setelah menciut jadi kecil dan lembek lagi.

Kutatap wajah Dana. Matanya terpejam puas. Aku berbaring disebelahnya sambil kubelai-belai rambutnya. Tak lama, Dana tertidur…

Tinggal aku yang terbaring bugil dengan nafsu yang masih menggantung. Tak apalah, lumayan setelah enam bulan nganggur…

Pos ini dipublikasikan di Dunia Kerja dan tag . Tandai permalink.

10 Balasan ke Bertemu Dana

  1. savend berkata:

    Bagus sist..tp koq kesanny sist trlalu liar.. Bertolak belakang sm penampilan sist.. Cm pendapat aja sist..

  2. godol berkata:

    sip sist.. menggairahkan.. ditunggu cerita pengalaman berikutnya

  3. payne berkata:

    wah akhirnya nongol jg nih lanjutannya, terusin sis…

  4. kurt1967 berkata:

    wah kurang menggigit nich ceritannya, but nich i like…
    di tunggu sis cerita yang berikutnya….

  5. ikipiyeto berkata:

    hoss…hos…hosshh… baca sambil ngos2an

    yah.. abis….

  6. Tuxx berkata:

    Bagus & Mantap.
    Versi Malaysia ada ceriya kayak gini
    http://berahi.wordpress.com/

  7. savend berkata:

    Sis,blm update lg neh?

  8. ikipiyeto berkata:

    weleh2.. lamo amir euy

  9. Khintul berkata:

    Mn nieh lnjtanya?

  10. savend berkata:

    Sis,gk suka lg yah? Koq g update update..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s