Akhir yang menyakitkan

Aku terbangun karena sinar matahari menerpa wajahku. Ternyata kain gorden penutup jendela terbuka dengan lebar. Kugeliatkan tubuh telanjangku menghapus sisa-sisa kantuk dari tidur nikmatku semalam.

Aku menoleh kesamping. Lho… Dito mana ? aku tidur sendirian. Ah, mungkin dia di kamar mandi. Tapi kemudian mataku tertumbuk pada tumpukan uang 100 ribuan di meja kecil samping tempat tidur. Didekatnya ada secarik pesan. Kuambil pesan itu. Dari Dito…


Lin, sorry aku berangkat pagi-pagi. Kamu pulang duluan aja ke Jakarta. Gak usah nunggu aku. Aku udah tinggalin kamu duit 2 juta. Anggap aja tanda terima kasih karena udah kamu bikin enak semalam”
See you, Dito”

Aku merasa kata-kata dalam surat ini agak kasar. Apakah Dito serius memberiku 2 juta sebagai tanda terima kasih? bukan karena sayang ? Atau Dito cuma bercanda. Ya semoga dia cuma bercanda.

Berpikir seperti itu aku segera bangkit dari tempat tidur dan dengan santainya aku berdiri telanjang bulat sambil menggeliat meluruskan otot-ototku. Tapi oops!

Ternyata jendela kamar benar-benar terbuka tanpa penutup kain vitrage sekalipun. Padahal kamar ini ada di lantai dasar dan jendelanya menghadap taman. Akibatnya beberapa tamu hotel yang sedang berjalan-jalan di taman tertegun menatap tubuh telanjangku yang sedang dalam pose menggairahkan. Telanjang, kedua tangan diangkat tinggi-tinggi, hingga dada dan memekku jelas terpampang.

Gila! Dito benar-benar gila! Aku segera berlari menuju kamar mandi.
Seusai mandi aku keluar kamar mandi dengan berbalut handuk. Perlahan aku melangkah menuju jendela. Kututup jendela dengan menarik tali di pinggirannya. Ah… aman.

Barulah setelah itu aku berani melepas handuk penutup tubuhku dan segera berdandan. Aku harus checkout pagi ini juga dan langsung pulang ke Jakarta.
Seharian aku berputar-putar di kota Bandung sendirian. Baru menjelang malam aku pulang ke Jakarta mengendarai mobil angkutan Cipaganti.

→←

Sesampai di kamar kostku di Jakarta, kuhempaskan tubuhku di kasur kamarku. Pikiranku menerawang. Aku memikirkan kejadian-kejadian yang kualami belakangan ini.

Kuraih dompetku. Kukeluarkan sisa uang pemberian Dito. Menginap semalam bersama Dito aku mendapatkan 3 juta. Tapi kenapa hati ini tidak bisa senang. Kenapa aku justru merasa terhina. Apalagi kata-kata Dito dalam pesan yang ditinggalkannya pagi tadi sungguh menyakitkan.

Apa iya Dito hanya menganggapku perempuan bayaran? Ah tapi tidak mungkin. Dengan 3 juta seharusnya Dito bisa dapat pelayanan penuh dari perempuan-perempuan malam yang siap memberikan kepuasan. Sedangkan dengan aku, Dito tidak bisa menikmati tubuhku sepenuhnya. Artinya, Dito tidak mungkin menganggapku sama dengan para perempuan malam itu.

Lagipula, kami sudah sering membahas rencana pernikahan kami dengan kedua orang tua Dito. Bahkan seluruh keluarga sudah sepakat pernikahan akan dilangsungkan 4 bulan lagi.

Tapi… tetap saja aku merasa tidak nyaman. Apalagi Dito seringkali seolah sengaja mempertontonkan tubuh telanjangku kepada orang lain. Di mobil, dan terakhir pagi tadi di Hotel setelah dengan sengaja membuka tirai Hotel lebar-lebar.
Aku bingung.. aku bimbang… akhirnya aku tertidur lelah…

→←

Pagi…
Baru saja aku akan berangkat ke kantor ketika kudengar ketukan di pintu kamarku. Kubuka pitu dengan hati bertanya-tanya siapa yang sepagi ini mau bertamu ke kamarku.

Saat kubuka pintu, kulihat Dito berdiri sambil tersenyum tipis. Sebelum sempat kusapa, Dito sudah mendorong tubuhku masuk kembali ke kamar. Kemudian Dito menutup pintu dan menguncinya sekaligus. Setelah itu tanpa berkata apa-apa dia mulai membuka seluruh pakaiannya sendiri.

“Dit, mau ngapain ? nanti aku terlambat” protesku. Aku agak tersinggung dengan kedatangannya yang tiba-tiba dan langsung buka pakaian di hadapanku tanpa basa-basi.

“Biarin lah terlambat sedikit. Udah biasa kan?” jawab Dito santai sambil membuka celana dan celana dalamnya sekaligus. Aku ingin protes lagi, tapi mataku tertumbuk pada kontol besarnya yang sudah ngaceng dan berdiri tegak. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi saat Dito memeluk tubuhku dan mencium bibirku.

Aku hanya pasrah saja saat Dito membuka jilbabku dan melemparkannya entah kemana. Aku semakin pasrah ketika lidah Dito menari-nari di telingaku sementara kurasakan kontol kerasnya mendesak-desak perutku. Kuremas rambut Dito sambil meresapi jilatannya di telinga dan leherku.

Dito tidak hanya menjilat leherku, tapi menggigit-gigit kecil sambil dihisap kuat-kuat. Aku yakin gigitannya pasti meninggalkan bekas merah di leherku. Aku tidak perduli. Toh nanti akan tertutup jilbabku. Aku hanya peduli pada kenikmatan yang kurasakan saat ini.

Setelah puas menggarap leherku, Dito berhenti sejenak sambil menatap tubuhku yang masih berpakaian lengkap. Kemudian tiba-tiba dengan agak kasar dan terburu-buru Dito melepas kancing-kancing bajuku dan merenggutnya dengan keras untuk kemudian melemparkannya begitu saja. Lalu tangannya bergerak ke punggungku membuka kait BH ku. Lagi-lagi Dito merenggut BH ku dengan agak kasar dan melemparkannya.

Sejenak dipandanginya dada telanjangku. Lalu diremasnya dengan kedua tangannya. Oooh… kasar sekali. Tapi rasanya justru aku menyukainya. Remasan kasar Dito pada dadaku berhenti saat Dito meluncur turun berjongkok di hadapanku.

Tangannya dengan lincah membuka celana sekaligus celana dalamku dalam satu tarikan. Dan bugil lah aku…
Di kecupnya memekku dan dijilat dari bawah keatas. Uuughhh… aku berdiri dengan gemetar merasakan jilatan Dito pada memekku.

Disaat aku sedang menikmati jilatannya, tiba-tiba Dito menghentikan kegiatannya. Dia bangkit berdiri dihadapanku lalu tanpa persiapan sama sekali aku di dorong keras hingga terpental ke kasur.

Aku kaget dengan perlakuan kasar Dito ini. Tapi belum sempat aku berkata apa-apa, Dito sudah menerkam menindih tubuhku. Ciumannya begitu ganas. Lidahnya menerobos membelit-belit lidahku. Pinggulnya bergerak-gerak menekan kontolnya diatas memekku.

Aku benar-benar terhanyut dengan permainan kasar ini. Sensasi dari ketidak berdayaan seolah akan diperkosa ini justru menambah nikmat cumbuan-cumbuan yang kurasakan.

Jilatan Dito mulai turun ke dadaku. Mulutnya melahap dada kiriku dengan penuh nafsu seolah ia ingin memasukkan seluruh daging dadaku itu dkedlam mulutnya.

“Ooooh… Dit… kamu tambah hebat sayang…” Aku semakin meracau tidak karuan dengan perlakuannya ini. Ditambah lagi sementara mulutnya melahap sambil menjilati puting dada kiriku, tangan kirinya meremas kuat dada kananku sambil jemarinya memilin-milih puting susu kananku dengan cepat dan berulang-ulang.

Aku tak tahan menghadapi serang Dito kali ini. Belum-belum memekku banjir sudah. Kugoyang-goyangkan pinggulku mengejar kontolnya yang terus saja menggesek permukaan memekku.

Dito merosot kebawah. Tangannya menggenggam kedua pahaku dan di bentangkannya lebar-lebar. Lalu kepalanya merangsek selangkangku dengan tiba-tiba.

“Aoooow ! ooooooohhh….” Aku benar-benar dibuat menjerit. Lidah Dito langsung bermain menjilati lubang memekku. Dengan kecepatan lebih dari biasanya, Dito menjilati memekku dari bawah keatas berulang-ulang. Lidahnya serasa menggaruk-garuk memekku yang memang sudah gatal sedari tadi.

Lalu Dito melahap sebelah bibir memekku seperti sedang mencium bibirku. Di sedot-sedotnya bibir memekku sambil lidahnya menerobos masuk kedalam lobang memekku dan menjilati dinding-dinding bagian dalam memekku. Ooowwwh… semoga selaput daraku tidak sampai pecah gara-gara lidah Dito yang bermain sampai kedalam.

Kemudian kembali Dito menjilati memekku dari bawah keatas berulang-ulang, Lalu tiba-tiba mulutnya menangkap itilku dan menghisapnya kuat-kuat sambil giginya mengunyah perlahan membuat itilku seperti di giling.

Aku tidak sanggup lagi bertahan. Tubuhku kejang. Pantatku kuangkat tinggi-tinggi mengejar mulut Dito. Tanganku terlempar ke kiri dan kanan sambil meremas apa saja yang bisa ku gapai. Punggungku melengkung, kepalaku terdongak keatas.
Kupejamkan mataku sambil berteriak histeris “Aaaaaaaaaaagghhhhhh….”

Rasanya cairan memekku bukan hanya mengalir. Tapi benar-benar menyembur dengan kuat. Entahlah, benar begitu atau perasaanku saja. Yang jelas aku benar-benar merasakan nikmat yang luar biasa.

Lama aku kejang dalam posisi melengkung seperti itu sampai akhirnya aku terhempas hebat ke kasur. Nafasku tersengal dengan keringat yang membasahi tubuhku.

Plak!, Dito menampar pahaku tiba-tiba sambi menghempaskan tubuhnya telentang disampingku.
“Ayo gantian. Isep kontolku sekarang” ujar Dito agak kasar.

Meski masih terasa lemas, aku bangkit duduk menghadap kontol Dito. Kuraih batang kontol yang besar dan berurat itu. Kuremas-remas dengan gemas. Lalu tanpa basa basi lagi ku masukkan batang keras yang hangat itu kedalam mulutku.
Kumajukan kepalaku naik turun mengocok kontolnya dengan mulutku.
Sesekali kuhisap kuat-kuat kontol itu sebelum akhirnya ku kocok lagi dengan mulutku. Kujilati kepala kontol Dito, lalu kuhisap. Hanya kepala kontolnya saja yang masuk kemulutku. Lalu kuhisap-hisap sambil lidahku ikut menjilat-jilat.
Kuhisap-hisap sampai kepala kontol itu melejit dan hampir terlontar keluar. Tapi sebelum kontolny aterlepas dari mulutku, segera kumasukkan lagi kepala kontol itu sambil tetap ku hisap-hisap.

Setelah itu kembali kumasukkan seluruh batang kontol besar itu kedalam mulutku. Ku kocok-kocok lagi dengan mulutku sampai akhirnya kubasahi seluruh permukaan kontolnya dengan ludahku.

Selanjutnya giliran tanganku yang bertugas memberikan kenikmatan kepada kontol Dito. Kukocok dengan cepat batang kontol besar ini.

Tiba-tiba Dito bangkit duduk dan berdiri diatas kedua lututnya membuat aku ikut ikut terduduk.
“Ayo isep terus… kocok yang kenceng… aku udah mau keluarrrr” teriak Dito.

Akupun semakin bersemangat mengocok kontol Dito. Kurasakan kontol itu semakin keras. Dan mulai terasa kedutan-kedutan pertanda sudah mau keluar. Seperti biasa, aku segera memasukkan kontol Dito kedalam mulutku supaya bisa ngecret dimulut.

Tapi Dito justru menepis tanganku dan mencabut kontolnya dari mulutku. Lalu dia malah mengocok sendiri kontolnya dengan tangannya di hadapan mukaku, dan…. Crooot… Croooot… crooot… tiga semburan menerpa wajahku. Mata, hidung dan mulutku. Dan Dito mendorong tubuhku hingga telentang sambil terus saja mengocok kontolnya.

Dengan sengaja Dito mengarahkan semburan kontolnya ke leher, dada dan terakhir ke perutku.

Aku terkapar telentang belepotan air mani di sekujur wajah dan tubuhku. Kulihat Dito bangkit meraih bajuku dan membersihkan kontolnya dengan bajuku itu. Aku ingin protes, tapi lemas sekali rasanya. Kubiarkan saja kelakuannya itu.

Tanpa berkata-kata Dito mengenakan pakaiannya kembali. Sementara aku tetap saja terbaring lemas di kasur. Kupikir sudahlah, aku tidak usah ngantor hari ini.

“Lin… aku mau ngomong..” ujar Dito sambil mengenakan sepatunya. Aku tidak menjawab selain menatapnya heran dengan wajahku yang masih belepotan air maninya itu.

“Mulai hari ini… kita putus!” ucap Dito tiba-tiba. Aku tersentak bangun. Aku duduk menatap wajahnya yang tampak tanpa ekspresi itu.

“Kenapa ?” tanyaku lemah…

“Terus terang, sebenernya pacaran sama kamu itu enak. Nikmat banget. Susah nyari perempuan yang bisa bikin enak kayak kamu Lin. Masalahnya, kamu cuma enak buat dipacarin. Kalau untuk dijadikan istri, aku mau cari perempuan baik-baik yang belum kenal kontol sama sekali. Bukan yang udah kebanjiran air mani kayak kamu gini… Sorry ya Lin. Kita sampai disini aja. Terima kasih, barusan luar biasa enak.”

Aku tak mampu lagi berteriak. Aku hanya menatap Dito yang melangkah ke pintu dengan air mataku yang berlinang bercampur dengan air mani yang membasahi pipiku.

Sebelum membuka pintu, kembali Dito berkata “Eh, tapi kalo kamu kangen sama kontol aku, telpon aja ya. Aku siap kok. Oke? “ setelah itu Dito membuka pintu dan berlalu.

Aku membanting tubuhku telentang ke kasur. Dan menangis sejadi-jadinya…

Pos ini dipublikasikan di Dunia Kerja dan tag . Tandai permalink.

9 Balasan ke Akhir yang menyakitkan

  1. spawns berkata:

    ” manusia mahluk sosial..,hidup juga bukan u/ saat ini dan masa depan saja…kadang masa lalu menjadi jalan u/ masa depan…oleh sebab itu kita manusia tidak dapat melupakan masa lalu begitu saja…semua fase dalam hidup kita akan saling berhubungan…OK Honey…”

  2. godol berkata:

    wow.. salut buat adegan ceritanya.. menggairahkan..
    ada unsur eksibisionis nya.. jd ga tahan..
    turut prihatin atas sikap ditto yg muna’

  3. ho2 x berkata:

    cerita waw..dr sisi cewek emang lebih seru..
    Tp ju2r.benci dgn kata2:
    Lebih enak dipacarin dr pd jd istri..
    Ju2r, kata2 itu merendahkan saya sebagai laki2..apalagi yg ngucapin jg org yg suka disepong..hayah..

  4. savend berkata:

    Sbar yah sis, life must go on sis..

  5. ikipiyeto berkata:

    lanjuuuuuuuuuttt.. ooohh… cepetan sayaaaangg, jangan lama2 yah lanjutannya uucchhh..

  6. savend berkata:

    Sist,blm update lg neh?

  7. Kobain berkata:

    wah sis mana nich lanjutannya uda gak sbar nich…

  8. wahyu berkata:

    i know this is true story. be patient…..

  9. boe berkata:

    ini crita bneran apa gak cie??

    gue hrap cie gak yah,biz critanya bqin mslah tuh..
    msa ga ada hrganya gtu cie??tpi thanx critanya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s