Dinginnya Bandung

Hampir seminggu aku mogok kencan dengan Dito. Bukan hanya mogok kencan, bahkan telepon dan smsnya pun tak mau kujawab. Aku benar-benar tersinggung atas kata-katanya padaku.

Tapi Dito terus saja membujukku melalui sms-smsnya. Kata-kata maaf mengalir terus menerus membuatku goyah juga. Akhirnya aku setuju untuk dijemput seperti biasanya, dan kembali bercumbu di mobil seperti biasa.


Dito menepati janjinya. Tidak sedikitpun dia menyinggung soal masa laluku yang sudah banyak mengenal bentuk kontol.

Bahkan malam ini percumbuan kami begitu menggairahkan. Setelah kontolnya ku isap sampai ngecret di mulutku, Dito tidak langsung istirahat. Dia malah segera melahap memekku lagi dengan lidahnya. Padahal, sebelum kontolnya kuhisap tadi, dia sudah menjilati memekku sampai aku lemas.

Cepat sekali birahiku mendera. Tubuh telanjangku menggeliat-geliat hebat di kursi belakang mobil Dito. Eranganku tak putus-putus menerima serangan lidah Dito yang terus saja menyeruak belahan memekku.

Dito membuka memekku dengan kedua tangannya hingga lobang memekku menganga lebar. Aku terkangkang hebat menerima perlakuannya.
Setelah itu lidahnya menerobos masuk kedalam lobang yang menganga. Mengaduk-aduk dinding lobang yang telah banjir ini. Kemudian lidahnya bergerak dari bawah keatas berkali-kali sambil sesekali menyentuh klitorisku. Aku benar-benar terlempar-lempar merasakan nikmat yang tiada tara.

Tiba-tiba kurasakan klitorisku dilumat dan disedot kuat-kuat.
“Aaauuuuwwwwhhhhh….. “ Aku menjerit sejadi-jadinya. Dito bukannya berhenti mendengar teriakanku. Dia malah mengunyah itilku dengan bibirnya membuatku terlonjak-lonjak dikursi.

Aku benar-benar tak kuasa menahan kenikmatan ini. Tubuhku melengkung menyambut semburan dahsyat dari dalam tubuhku yang menyerbu menuju memekku. Kedutan-kedutan deras di memekku tak dapat ku bendung lagi. Aku terus melengkung mengangkat pinggulku tinggi-tinggi sampai akhirnya aku terhempas ke kursi dengan tubuh lunglai… lemas…. nikmat….

Aku terpejam bersandar. Masih kurasakan belaian lembut Dito pada dadaku, kecupan ringan di puting susuku. Kubiarkan semuanya…. aku benar-benar terhempas dalam kenikmatan…

“Sayang…. “ bisik Dito ditelingaku sambil bibirnya melumat daun telingaku pelan. “Hmmmmm…” aku hanya menggumam menjawab panggilannya.
“Besok ikut aku ke Bandung ya” sambung Dito ditelingaku.
“Ke Bandung ? jam berapa ?”
“Pagi-pagi. Kita nginep semalem.” jelas Dito. Tangannya terus saja meremas-remas dadaku.
“Besok kan aku masih kerja” aku ragu-ragu antara kepengen dan bingung karena besok masih hari kerja.
“Ya ijin aja lah. Besok telepon aja boss kamu dari jalan. Alesan apa kek…” bujuk Dito lagi. Akhirnya aku setuju dengan ajakannya. Didepan rumah kost ku kembali Dito mengingatkan akan menjemputku pagi-pagi sekali. Dan lagi-lagi dia minta aku tidak mengenakan pakaian dalam. Ah… masih aja dia begitu. Padahal, sekarangpun aku turun dari mobilnya tanpa pakaian dalam.

-><-

Baru saja aku selesai Sholat subuh ketika kudengar suara mobil parkir di depan rumah kostku. Entah karena masih subuh dan sepi hingga suara mobilnya terdengar jelas, atau karena memang letak kamarku yang lokasinya paling depan. Yang jelas aku langsung keluar buka pintu dan mengajak Dito masuk kamarku sambil menunggu aku merapikan pakaian yang akan aku bawa.

Selesai aku menyiapkan pakaian, aku segera menanggalkan pakainku. Ganti baju. Soalnya aku masih mengenakan pakain tidur.
Baru saja aku akan mengenakan rokku, Dito cepat mencegah.
“CD nya buka donk. Ngapain pake CD. BH nya juga”. Aku berusaha menolak
“Bandung kan dingin Dit. Apalagi sekarang masih subuh…”
“nanti AC mobilnya aku kecilin. Bawa jaket aja” Akhirnya aku menurut saja pada permintaan Dito. Segera kutanggalkan CD dan BH ku. Lalu cepat kukenakan rok panjang dan kemeja serta jilbabku. Kalau kelamaan bisa-bisa aku diserbu. Bisa gak jadi ke bandung nanti.

Dimobil, setelah menyalakan mesin Dito masih sempat memelukku dan mencium bibirku. Dan tangannya langsung membuka kancing jaket serta kancing kemejaku. Kemudan di bentangkannya jaket dan kemeja itu hingga dada telanjangku terbuka. Setelah itu diangkatnya rok panjangku hingga memeku terlihat. Barulah setelah itu dia menjalankan mobilnya.

Setelah masuk Tol, Dito memintaku untuk duduk menghadap dia. Aku bersandar ke pintu mobil memperlihatkan tubuh telanjangku yang dibungkus kemeja dan jaket yang terbuka. Sebelah kakiku kuangkat ke kursi, hingga praktis aku terkangkang menampakkan memekku dengan jelas.

Sepenjang perjalanan tak henti jemarinya bermain-main di dada dan memekku bergantian. Berkali-kali dia mencubit dan menarik-narik itilku membuat aku benar-benar banjir.

Sesampai di tempat parkir Hotel, tak kurang sudah 3 kali aku orgasme. Begitu masuk kamar, aku langsung menggila. Kupereteli semua pakaian Dito sampai dia bugil. Kudorong tubuhnya sapai terhempas telentang di kasur. Tidak menunggu lama lagi, ku isap habis kontolnya yang sudah ngaceng. Aku benar-benar tidak tahan menunggu dari subuh tadi. Kulumat kontolnya dengan ganas. Kujilat-jilat kepalanya, kubuka-buka lobang kencing dengan lidahku. Kujilati seluruh permukaan batangnya dari bawah ke atas seperti menjilati es lilin. Aku benar-benar menggila dan liar.

Kumasukkan kontol besar itu kedalam mulutku. Kusedot-sedot dengan kuat. Bukan hanya kukulum, tapi benar-benar ku sedot. Lalu kukocok-kocok dengan tanganku kuat-kuat. Aku bagaikan cewek yang sudah setahun gak ketemu kontol. Aku sendiri heran kenapa bisa begini. Aku begitu lapar akan kontol Dito yang besar.

Sepertinya Dito pun sudah kewalahan dengan keliaranku. Kurasakan kontolnya semakin keras dan berdenyut-denyut. Cepat ku hisap dan kusedot lagi kontolnya. Benar saja…. croooot… crooott… semburan hangatnya menerpa mulutku. Kutelan semua sambil aku terus menyedot kuat kontolnya.

Sebelum kontol Dito mengecil, cepat kutindih tubuh Dito dan kugesek-gesek kontol yang hampir lemas itu ke memekku. Ingin kuraih lagi kenikmatan yang mulai menghampiriku. Tapi Dito menolak….

“Udah dulu sayang… aku harus ketemu orang pagi ini.” ujar Dito sambil bangkit dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi.

Aku terhempas kecewa. Tapi kupikir, sudah lah. Dito kesini karena ada kerjaan. Aku tidak boleh egois. Segera aku bangkit menyiapkan pakaian Dito.

Sebelum pergi, Dito meninggalkan uang tunai 1 juta. Katanya untuk aku belanja-belanja di Factory Outlet yang banyak bertebaran di Bandung. Apalagi kami menginap di kawasan Dago yang banyak sekali FO nya.

Sepeninggal Dito, aku lanjutkan berbaring telanjang di kasur empuk hotel ini. Dan aku terlelap lelah.
Aku terjaga sekitar pukul 1siang lewat. Perutku lapar. Segera aku mandi dan berpakaian.

Kutelusuri Dago dengan berjalan kaki. Kubelanjakan uang 1 juta dari Dito. Senag sekali rasanya dimanjakan seperti ini.
Sekitar jam 4 sore aku sudah telanjang lagi di hotel menunggu kedatangan Dito. Tapi sampai jam 9 malam, Dito tidak juga pulang. Akhirnya aku tertidur telanjang dibalik selimut.

Ditengah lelapnya aku tertidur, kurasakan ada yang bermain-main dengan memekku. Kurasakan ada benda tumpul yang menggesek-gesek memeku. Saat kubuka mataku, kulihat Dito sedang berjongkok telanjang didepan selangkanganku sambil menggosok-gosokkan kontol ngacengnya ke belahan memekku. Aku langsung kejang merasakan nikmatnya. Dito terus menyodok-nyodokkan kontolnya sampai menyundul-nyundul itilku. Luar biasa nikmatnya. Seandainya Dito nekat memasukkan kontolnya ke dalam memekku, aku yakin aku tak mungkin mampu menolak.

Pinggulku bergoyang-goyang mengikuti irama sodokan kontol Dito. Aku benar-benar tidak tahan lagi. Orgasmeku menyerbu dengan derasnya.
Setelah aku terhenyak lemas, Dito duduk bersandar di sebalah kepalaku. Kontolnya berdiri tegak dengan gagahnya. Memandang kontol besar yang indah itu aku segera berguling ke pangkuan Dito.

Kini kepalaku menghadap langsung kontol ngaceng Dito yang sudah tegak dengan perkasa. Segera ku genggam kontol indah itu dengan kedua belah tanganku. Kukocok-kocok, lalu kujilat-jilat.

Ku isap dan kulumat kontolnya dengan penuh semangat. Kujilat-jilat kepalanya, kubuka-buka lobang kencing dengan lidahku. Kujilati seluruh permukaan batangnya dari bawah ke atas. Ku kocok-kocok lagi dengan tanganku. Begitu terus, isap, kocok, isap, kocok…

Akhirnya kontol di dalam mulutku ini mulai berdenyut-denyut lagi dan… croooot… kurasakan lagi semburan kerasnya.

Dito telentang puas. Aku telentang nikmat…

Pos ini dipublikasikan di Dunia Kerja dan tag . Tandai permalink.

4 Balasan ke Dinginnya Bandung

  1. godol berkata:

    waduh.. gak tahan euy.. menggairahkan.. break dulu ah..🙂

  2. kurt cobain berkata:

    mana nich kelanjutannya…

  3. ikipiyeto berkata:

    fiuh… kepala ane berkedut kedut.. kepala bawah maksutnye

  4. boe berkata:

    crritanya terlalu cepet..
    atuarn bikin pembaca terangsang dulu dun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s