Dia mulai berubah

Semenjak Dito tahu bahwa aku sudah biasa ngisep kontol-kontol para mantanku dulu, nafsunya seolah menjadi semakin liar. Jujur sebenarnya aku takut masa laluku yang cukup liar dalam berpacaran membuat hilangnya rasa sayang Dito padaku. Tapi melihat perkembangan hubungan kami setiap hari yang semakin panas, aku menjadi lebih tenang dan yakin bahwa perilaku liarku dimasa lalu tidak akan mempengaruhi hubungan kami.

Namun meski Dito semakin liar padaku, terkadang aku menjadi agak risih dengan keinginannya yang semakin aneh-aneh. Belakangan ini Dito senang sekali memintaku telanjang meski dilokasi yang tidak terlalu aman.


Seperti hari ini, seperti biasa Dito menjemputku ke kantor. Dan seperti biasa aku sudah siap tanpa celana dalam dan BH menghampiri mobilnya. Begitu aku duduk, Dito langsung meremas dada dan memekku sekedar men-cek apakah aku mengenakan pakaian dalam atau tidak. Setelah yakin aku polos didalam, Dito tersenyum dan mengecup bibirku perlahan kemudian menjalankan mobilnya.

Belum jauh mobil meninggalkan kantor, Dito memintaku untuk membuka rok panjangku. Aku sempat protes karena saat ini jalanan masih ramai. Baru jam 6 sore lewat sedikit. Bahkan masih cukup terang. Tapi Dito tetap memaksa dengan alasan kaca mobilnya sangat gelap sehingga tidak akan terlihat dari luar.
Dengan deg-degan aku melepas Rok panjangku dan melemparnya ke kursi belakang. Kemudian cepat aku berusaha menutupi memekku dengan ujung kemeja walau dengan sangat susah payah. Karena sialnya hari ini aku mengenakan kemeja yang agak pendek, hingga aku harus menahan ujung kemeja itu dengan tangan agar tetap bisa menutupi memekku.

Gawatnya Dito segera menepis tanganku. Akibatnya memekku terbuka dengan bebas karena kemejaku tak mampu menutupinya. Aku benar-benar malu saat itu. Rasanya semua mata dijalanan melihat bagian bawahku yang telanjang. Tapi belum sempat aku protes, Dito telah melebarkan pahaku hingga mengangkang dan langsung jemarinya menggosok-gosok memekku. Aku tak mampu lagi untuk protes. Aku hanya bisa menengadah merasakan getar nikmat akibat rabaan jemari Dito di memekku. Untunglah perlahan namun pasti matahari semakin tenggelam. Dengan demikian aku bisa lebih tenang menikmati serangan Dito di memekku.

Dito begitu bersemangat mengubek-ngubek memekku. Bibir memekku di buka-buka dengan dua jarinya. Kemudian jarinya langsung menggosok itilku. Uuugh… nikmatnya. Aku terkapar tak berdaya sambil mengangkat-angkat pantatku mengejar jemarinya.

Tiba-tiba Dito menjepit itilku dengan dua jari, kemudian memelintirnya bolak-balik.
“Aaaaaaakhhh… Ditooooo… diapain sayaaaang……”
Dito tidak menjawab. Tatapannya tetap konsentrasi pada jalanan didepannya, sementara tangan kirinya terus mengerjai memekku tiada henti. Itilku di pelintir, di gosok atas bawah, di gosok kiri kanan, Kemudian jemarinya menggosok memekku dari bawah keatas sampai menyentuh itilku. Lalu tiba-tiba tangannya menggosok bibir memekku dari kiri ke kanan dengan kecepatan tinggi.
“Aoooooowwwwhhh…. Enaaaak bangeeettt…”

Aku sudah hampir orgasme ketika tiba-tiba Dito menghentikan kegiatannya. Ah, rupanya kami sudah sampai di Senayan tempat biasa kami berkencan.
Dito langsung memarkir mobilnya ditempat yang agak sepi. Begitu mengaktifkan rem tangan, Dito langsung menarik jilbabku sampai lepas dan serta merta mencium bibirku penuh nafsu. Bibirku disedot dengan ganas. Lidahnya langsung menari-nari dalam rongga mulutku.
Nafsuku yang sempat tertunda langsung naik lagi. Apalagi tangan kanan Dito mulai lagi menari-nari di memekku.

Sedang seru-serunya kami ciuman, tiba-tiba terdengar suara ketukan di jendela sebelah Dito. Dengan santai Dito melepas ciumannya kemudian membuka kaca jendela mobil tanpa perduli dengan keadaanku yang setengah telanjang.

“Dito tunggu…!”. Terlambat. Kaca mobil sudah terbuka dengan lebar. Aku hanya bisa menutupi memekku dengan telapak tangan. Aku yakin pelayan makanan itu pasti puas melihat paha mulusku yang terbuka sambil mendengarkan pesanan Dito.

Sepeninggal pelayan, Dito menutup kembali kaca jendela mobil dan langsung merengkuh tubuhku lagi. Kurasakan ciumannya semakin ganas. Dan kali ini jemarinya dengan tangkas mempereteli kancing kemejaku.
“Nanti aja Dito. Bentar lagi minumannya dateng. Bisa repot kalo telanjang sekarang” bisikku berusaha mencegah tangan Dito yang sedang menelanjangiku.
“Buka kancingnya aja. Bajunya gak usah dulu”, jawab Dito sambil terus mempereteli kancing bajuku satu persatu sampai terlepas semuanya. Setelah itu kemejaku disibakkan ke kiri dan kanan hingga dadaku yang tanpa BH bebas merdeka.

Dito langsung menciumku lagi sambil meremas dada kiriku. Aku risih dengan perlakuan Dito ini, tapi ada rasa nikmat yang lebih dari yang biasa kurasakan. Perlakuan Dito yang sedikit agak “merendahkanku” ini justru membuat nafsuku cepat sekali bangkit.

Desahanku semakin keras seiring dengan remasan-remasan tangan Dito di dada kiriku.
Dan benar saja…. kembali terdengar ketukan di kaca jendela. Pelayan warung sudah siap dengan 2 buah teh botol ditangannya.

Lagi-lagi Dito langsung membuka kaca jendela tanpa menunggu aku selesai merapikan bajuku. Terlihat dari sudut mataku pelayan itu melotot menyaksikan memekku yang tidak sempat kututupi karena kemejaku hanya sempat menutupi dadaku saja Sementara bagian bawahnya masih terbuka lebar.

Dito segera menutup kembali kaca jendela setelah meletakkan teh botol kami di lantai. Lalu dengan cepat dia melepaskan kemejaku hingga aku bugil total.
“Pindah ke belakang aja yuk…” bisikku ditengah serangan Dito. Mendengar permintaanku, Dito menghentikan serangannya dan segera pindah ke belakang mendahuluiku. Aku mengikutinya dengan perasaan was-was takut dilihat orang karena tubuhku sudah bugil.

Sesampai di belakang Dito langsung menanggalkan seluruh pakaiannya hingga kami sama-sama bugil. Terlihat kontolnya sudah ngaceng sempurna.
Dia memintaku untuk duduk dipangkuannya. Aku segera mengangkang dipangkuannya. Tak bisa dihindari, memekku bersentuhan dengan batang kontolnya. Aku merinding merasakan kontolnya menggesek belahan memekku. Kugoyang-goyangkan pantatku maju mundur menikmati gesekan kontolnya disepanjang belahan memek.

Sementara Dito begitu lahapnya menciumi toketku. Toketku dihisap sekuat-kuatnya seperti ingin ditelan seluruhnya. Selanjutnya pentil susuku di sentil-sentil dengan lidahnya sebelum akhirnya di hisap dengan kuat. Erangan dan goyanganku semakin menjadi-jadi. Apalagi tangan Dito mulai meremas bongkahan pantatku dan membantuku memaju mundurkan pantat menggesek kontol Dito ke memekku.
Lalu kurasakan jemari Dito menelusuri bawah pantatku dan bermain-main di pinggiran lobang pantatku.

Oooooooowwgghhhh…. gilaaaaaa…. enaaaaaakkk….

Memekku banjir sudah. Kedutan-kedutannya semakin jelas terasa. Aku semakin menggila menggoyang-goyangkan pantatku dan menggesek-gesekkan memekku ke kontol besar Dito.
Sampai akhirnya…. Aaaaaakkhhhh… aku berteriak kuat sambil memeluk kepala Dito kuat-kuat. Orgasme ku memancar dengan derasnya di iringi kedutan-kedutan dahsyat. Lebih sering dan lebih kuat dari biasanya.

Gilaaaa…. nikmat sekali. Aku lemas… aku tergolek kesamping, tersandar… Kemudian aku tersadar bahwa kontol Dito masih berdiri tegak menunggu giliran. Tanpa di komando lagi aku merosot kebawah bersimpuh di depan kontol Dito.

Kugenggam kontol besar yang penuh cetakan urat-urat menonjol itu. Kuusap-usap sambil meratakan cairan cintaku yang membasahi bawah kontolnya.

Ku kecup pelan ujung kontolnya, kujilati seluruh permukaan kepala kontol yang menjamur lebar itu. Kubuka-buka lubang kencingnya dengan lidahku. Lalu kumasukkan seluruh batang kontolnya kedalam mulutku.
Kubiarkan sejenak batang kontol besar itu didalam mulutku sambil lidahku bermain-main didalamnya. Baru kemudian kuangkat kepalaku perlahan sampai kontol itu terlepas dari mulutku.
Kujilati kedua biji pelernya. Kutarik-tarik jembutnya dengan bibirku sambil tanganku menggenggam lembut batang kontolnya.

Ku masukkan satu biji pelernya kedalam mulutku, kuhisap pelan sambil idahku terus menjilati. Setelah itu ganti biji satunya lagi kuperlakukan dengan sama.
Kemudian kutelusuri seluruh batang kontolnya dengan lidahku sambil sesekali kugigit-gigit kecil kulit kontolnya. Sampai di kepala kontolnya lidahku bermain-main di bagian bawah topi helm kontol Dito.

Seluruh permukaan bawah kepala kontolnya kujilati sambil lidahku berputar-putar disekitar kepala kontolnya. Baru kemudian kuhisap kuat-kuat kepala kontolnya. Dan mulailah kumaju mundurkan kepalaku mengocok kontolnya dengan mulutku.

Kubasahi seluruh permukaan batang kontol Dito dengan ludahku. Lalu kukocok-kocok kontolnya menggunakan tanganku dengan kecepatan tinggi. Pada saat tanganku sampai di kepala kontolnya, kuremas sejenak kepala kontol itu sebelum kembali aku mengocok dengan kencang.
Tak sampai 5 menit aku isap dan kocok, kurasakan kontol Dito semakin membesar dan berdenyut-denyut.
Kukocok semakin kuat. Dan saat Dito menegang, cepat-cepat kumasukkan kontolnya kedalam mulutku sambil kuhisap dengan kuat. Dan… Crooooot… crooottt… 5 sampai 6 tembakan kurasakan mendera rongga mulutku. Kutelan semua air mani yang terpancar. Air kental asin yang sangat kusuka….

Belum lagi aku istirahat, Dito meminta aku mengambil teh botol yang ada di lantai depan.
Segera aku meaih bajuku untuk sekedar menutupi ketelanjanganku. Tapi Dito mencegah.
“Gak usah pake baju dulu. Ambil aja tehnya dulu” sergah Dito.
“Kaca depannya gak terlalu gelap Dito. Nanti orang diluar bisa liat aku telanjang” jawabku menjelaskan kenapa aku harus pake baju.
“Udaaah… jangan banyak jawab. Ambil aja minumannya. Gak usah pake baju”, sergah Dito lagi agak keras. Aku sempat tersentak mendengar nada bicara Dito yang menurutku tidak seperti biasanya. Tidak lemah lembut, tapi agak sedikit membentak. Dengan menahan kecewa aku melangkah ke kursi depan dengan tubuh telanjang bulat. Kubungkukkan tubuhku agar tidak terlihat dari luar. Cepat-cepat kuambil teh botol dan segera kembali ke kursi belakang.

Sesampai di belakang kulihat Dito sedang membersihkan kontolnya menggunakan jilbabku. Aku kesal sekali melihat perbuatannya. Gak mungkin kan aku pulang dengan jilbab belepotan air mani begitu.
“Kamu apa-apan sih ? itu kan jilbab. Kenapa gak pake Tissue ?” bentakku sambil merebut jilbabku dari tangannya.
“Lho… kenapa memangnya?” tanya Dito berlagak bodoh.
“Kok kenapa sih? nanti aku pulang gimana? masak pake jilbab belepotan mani gini” aku benar-benar kesal jadinya.
“Yang aku pake kan bagian dalemnya. Gak akan keliatan dari luar” jawab Dito seenaknya.
“Ya tetep aja ada baunya” sergahku lagi.
“Nggak lah… gak semua orang apal bau kontol. Kecuali yang udah sering ngisep kontol kayak kamu”

Seperti di tampar rasanya aku mendengar kata-kata Dito. Aku sedih sekali.
“Kita pulang sekarang !” aku segera mengenakan semua pakaianku dan pindah duduk di bangku depan.
Dito mengikuti setelah selesai berpakaian. Setelah membayar minuman, kami beranjak pulang.

Disepanjang perjalanan kami hanya diam membisu. Aku benar-benar kecewa dengan ucapan Dito barusan.
Sampai di kamar kostku aku menangis sejadi-jadinya….

Sedih… perih… sakit….

Pos ini dipublikasikan di Dunia Kerja dan tag . Tandai permalink.

6 Balasan ke Dia mulai berubah

  1. Prince berkata:

    Makin panas…
    G sbar nunggu lanjutanx…
    Sis mulai nyesel y wktu tu knp pke ngaku sgala…

  2. godol berkata:

    semakin menggairahkan..
    ditunggu pengalaman berikutnya

  3. Spydi berkata:

    Wah itu sih dah keterlaluan sis cwo nya..

    Di tggu kelanjutannya.. Jgn lama2 yah..

  4. ikipiyeto berkata:

    wOw… bener2 mendebarkan kepala… kepala bawah maksutnya xixiixiixix

  5. ikipiyeto berkata:

    bener2 mendebarkan kepala.. kepala bawah maksutnya xixixiixi

  6. gmarme2k@gmail.com berkata:

    lumayanlah critamu..dari pada aku minum kencing kuda..???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s