Sebuah Pengakuan

“Iya sayaaang… isep terussss… isep yang kenceng..” teriak Dito ditengah sibuknya mulutku mengulum kontol besarnya. Kulepaskan kontol Dito dari mulutku lalu kukocok-kocok kontol itu dengan tanganku.
“Aaaaaahh… iseeep lagiiii…” kurasakan kontol Dito semakin keras. Cepat kulahap lagi kontol Dito. Kuhisap kuat-kuat dan… crooottt.. crooott… beberapa semburan hangat menerjang tenggorokanku.

Kutelan semua air maninya, kemudian kubersihkan kontol Dito dengan cara menjilati sekujur batang kontolnya. Setelah kontolnya bersih, kurebahkan tubuh telanjangku disebelah Dito.


Hhh… sudah jam 9 malam. Cape juga. Sudah tiga kali Dito ngecret di mulutku sejak kami check-in sore tadi.
Hotel dikawasan Sudirman ini lagi-lagi memberiku hadiah voucher menginap. Kali ini aku menikmatinya bersama Dito. Dan begitu kami masuk kamar kami langsung bertempur hebat dalam keadaan bugil total. Dan sampai saat ini kami belum berpakaian sama sekali. Termasuk saat makan malam tadi, tetap kami nikmati dalam keadaan bugil.

Saat pelayan mengantarkan makanan, aku hanya menutupi tubuh telanjangku dengan selimut tebal sambil berbaring. Sementara Dito hanya melilitkan handuk menutupi kontolnya yang baru saja muncrat.
Dito mengusap kepalaku lembut, kemudian mengecup bibirku pelan. Selanjutnya aku bergeser mendekat dan meletakkan kepalaku di bahunya.

“Kamu pinter banget sih ngisep kontolnya sayang…” ucap Dito sambil mengusap-usap bahuku. Aku diam saja tidak berkomentar. Hanya jemariku saja yang terus mengusap-usap dada bidangnya.

“Emang kamu udah pengalaman ya ngisep kontol” tanya Dito tiba-tiba. Aku agak tercekat mendengar pertanyaannya.
“Nggak kok… nuduh..” jawabku pelan dan hati-hati. Dito tetap mengusap-usap bahuku.
“Kalo gak pengalaman, kok bisa jago gitu ngisepnya.
“Ya nggak tau… aku cuma ngikutin naluri aja.” jawabku berdalih. Tidak mungkin aku mengakui bahwa sebenarnya hampir semua mantan pacarku pasti pernah aku isap kontolnya.
“Cerita donk sayang… aku gak apa-apa kok kalo memang ternyata kamu udah pengalaman. Malah enak kan, punya pacar yang jago ngisep kontol..” Dito terus saja medesak dengan pertanyaannya.

Aku bimbang. Haruskah aku jujur padanya? Bagaimana kalau nanti dia merasa jijik dan malah meninggalkanku.
Tapi jika aku tidak jujur, bagaimana jika nanti dia tau dari orang lain? Apalagi jika kami sudah menikah nantinya, tiba-tiba ada mantan pacarku yang cerita. Pasti Dito akan marah besar. Aku benar-benar bingung.

Dito terus saja membujukku dengan kata-kata yang lembut sambil terus mengsap-usap bahuku. Sampai akhirnya aku merasa Dito benar-benar sayang padaku dan mau menerimaku apa adanya.

“Iya emang aku udah pernah sih ngisep kontol sebelum kamu…” ujarku pelan. Sangat pelan malah. Nyaris hanya berbisik. Aku menunggu reaksi Dito dengan takut. Dito meremas bahuku sejenak.

“Nah, kan gitu enak. Gak apa-apa lagi. Gak usah malu-malu. Lagian kan berasa isepan yang udah pengalaman sama yang belom” . Aku tetap tidak berani menatap wajah Dito. Ada rasa malu yang hinggap ketika harus mengaku mengenai masa laluku.

“Udah berapa kontol yang pernah kamu isep?” tanya Dito lagi tetap tanpa ekspresi yang berlebihan. Dia tetap dengan gaya tenangnya sambil mengusap-usap bahuku.

“Iih… udah ah. Jangan bahas yang begituan” aku menghindar dari pertanyaannya. Sulit bagiku untuk menjawab pertanyaan yang satu ini.

“Gak apa-apa sayang. Aku pengen tau aja. Gak akan ada pengaruhnya buat aku. Aku tetep sayang kamu kok” terus saja Dito membujukku untuk mengaku.

“Ya ampir semua mantan pacarku pernah aku isep” jawabku akhirnya.
“Kamu udah berapa kali pacaran sih?” taya Dito lagi.
“8 kali termasuk kamu”
“Semuanya pernah kamu isep ?” kejar Dito. Sepertinya dia benar-benar penasaran ingin tahu yang sebenarnya.
“Ya nggak lah. Gak semuanya aku isep.” sergahku. Kupererat pelukanku pada tubuh Dito untuk menutupi rasa khawatirku.
“Jadi berapa kontol yang udah pernah kamu isep ?” tanya Dito terus-menerus sampai akhirnya aku menyerah.
“5 termasuk kamu” jawabku hati-hati.
“Wooow… dari 8 pacar, 5 orang kamu isep kontolnya? hebat. Ternyata kamu bener-bener pengalaman soal kontol sayang…” ujar Dito sambil mengengkat wajahku. Aku begitu malu untuk menatap wajahnya. Tapi melihat senyumnya, akhirnya aku menjadi lega. Dito tidak marah. Dia malah mencium bibirku dengan penuh napsu.

“Ngebayangin kamu ngisep kontol pacar-pacar kamu, aku jadi ngaceng lagi nih…” Mendengar ucapannya buru-buru kuraba selangkangannya. Oooh memang benar. Kontolnya sudah keras lagi.

“Ayo sayang… puasin aku lagi. Keluarin semua ilmu ngisep kontol kamu sayang…” pinta Dito sambil tersenyum penuh nafsu.
“Beneran kamu pengen di isep ?” tanyaku berbasa-basi.
“Iya donk sayang… percuma punya pacar jago ngisep kontol kalo gak mau di isep. Ayo sayang, puasin aku” Dito berkata begitu sambil mendorong kepalaku menuju kontolnya.

Aku segera menggeser tubuhku turun dan menjilati perutnya. Tapi Dito terus saja mendorong kepalaku.

“Gak usah mampir di perut. Langsung aja isep kontolnya” aku mendengar nada yang agak aneh dan tidak biasanya. Tapi buru-buru kuhapus rasa aneh tersebut. Aku langsung merosot menuju kontolnya.
Kugenggam kontol Dito yang sudah ngaceng penuh itu. Urat-urat di batang kontolnya sudah bertonjolan membuat kontol itu tampak begitu gagah.

Kujilat pelan kepala kontolnya yang seperti helm tentara itu. Kuputar-putar lidahku di selebar kepala kontolnya. Kubuka-buka lubang kencingnya dengan ujung lidahku. Erangan Dito mulai terdengar agak keras.
Aku tidak ingin buru-buru memasukkan kontol besar ini kedalam mulutku. Kujelajahi dulu seluruh batangnya dengan lidahku. Mulai dari kedua bijinya, kujilati bergantian biji kiri dan kanan. Kemudian kumasukkan salah satu biji pelernya kedalam mulutku. Kusedot pelan sambil lidahku bermain-main di seputar biji itu. Lalu kulakukan hal yang sama pada biji satunya lagi. Kumasukkan kedalam mulut, kuhisap pelan dan kujilati seluruh permukaan bijinya. Lalu kutarik-tarik bulu-bulu di sekitar bijinya dengan bibirku.

Kemudian lidahku menjilati dari biji naik ketas menyusuri seluruh batang kontolnya. Kujilati dari bawah keatas berulang-ulang sambil terus kugenggam kontol beras itu dengan tanganku.
Selanjutnya kutekuk kontol Dito sedikit kearah bawah, sehingga aku bisa menjilati perut bawah Dito. Kutarik-tarik lagi bulu-bulu di perut bagian bawah tepat diatas pangkal kontol dengan bibirku. Kemudian kuciumi permukaan kontolnya sampai ke ujung kepala kontolnya. Barulah setelah itu kumasukkan kepala kontolnya kedalam mulutku.

Kuisap-isap dan kupermainkan lidahku dipermukaan kepala kontolnya. Lalu kumasukkan seluruh batang kontolnya kedalam mulutku. Memang terasa batang kontol Dito lebih besar dan lebih keras dari biasanya. Mungkin benar Dito menjadi lebih terangsang mendengar aku sudah banyak pengalaman soal kontol.
Memikirkan itu aku jadi lebih bersemangat. Kugerakkan mulutku maju mundur mengocok kontolnya sambil lidahku terus menjilat-jilat. Kusedot-sedot kontolnya sampai hampir melejit keluar dari mulutku.
Setelah mulutku agak pegal, kukocok kontol Dito dengan tanganku. Kukocok dengan kecepatan tinggi. Dito sampai berteriak saking enaknya.

“Uaaaaaahhhhhh… enak banget sayang….. terus sayaaaanggg…”
Semakin Dito berteriak, semakin semangat aku mengocok dan menghisap kontolnya. Sampai akhirnya kurasakan denyutan-denyutan kecil di kontol Dito. Menyadari bahwa Dito sebentar lagi akan ngecret, cepat kuhisap kontol Dito sekuat-kuatnya sambil batang kontolnya dibagian bawah kukocok-kocok dengan tanganku.

Akhirnya sampai juga. Dito berteriak histeris menjemput ejakulasinya. Crooooooootttt… semburannya begitu keras terasa menggempur dinding-dinding mulutku. Kuhisap terus, kusedot-sedot sambil aku menelan semua air mani yang ada. Kuseot-sedot terus sampai tidak ada lagi yang keluar dari kontolnya.

Kusedot terus sampai kontol Dito melemas dan mulai mengecil. Terus saja kusedot-sedot sampai kontol itu benar-benar kecil dan lemas.

Dito terkapar nikmat. Matanya terpejam sementara dadanya naik turun seiring dengan nafasnya yang ngos-ngosan.
Aku berbaring disebelah Dito sambil mengangkang lebar menunggu serangan Dito selanjutnya.
Tapi kutunggu-tunggu Dito tetap memejamkan matanya tak peduli dengan memekku yang sudah gatal ingin dijilati.

Dengan tak sabar kutindih tubuh Dito lalu kukecup bibirnya. Tak ada reaksi, malah terdengar dengkur tipis Dito.
Aaah… Dito tidur ? kok curang sih ?

Kuhempaskan lagi tubuhku kekasur dengan sedikit kesal. Tapi setelah kupikir lagi, ya wajarlah Dito jatuh tertidur. Dia sudah 4 kali ngecret semalaman ini saja. Menyadari hal itu kukecup pipi Dito yang masih terlelap itu dengan penuh rasa sayang. Kemudian aku mencoba untuk tidur.

http://www.777seo.com/seo.php?username=bukuharian

Pos ini dipublikasikan di Dunia Kerja dan tag . Tandai permalink.

3 Balasan ke Sebuah Pengakuan

  1. Prince berkata:

    Wah,bisa semakin kompleks ni critax…lnjut sis…dtunggu…

  2. Prince berkata:

    Lamax sis lnjutanx…

  3. payne berkata:

    yup, lanjutannya mana nih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s