Ke Ancol lagi

Pengalaman percumbuan di bioskop bersama Dodi waktu itu adalah yang pertama dan terakhir bagiku. Bukan karena aku tidak menyukainya. Bukan…
Jujur saja pengalaman bercumbu di depan orang banyak begitu menimbulkan sensasi erotis yang menggairahkan bagiku. Mengingatnya saja bisa membuat memekku basah.

Namun yang membuatku enggan meneruskan petualangan bersama Dodi adalah sikapnya yang menjadi sangat protektif terhadap diriku. Dia benar-benar menganggap aku ini sebagai miliknya yang bisa dikuasai sesuai dengan keinginannya.


Sementara bagiku, Dodi is just another Kontol. Tidak lebih.
dia sudah mulai banyak bertanya jika aku dekat dengan teman pria lain. Atau dilain kesempatan dia mulai mengatur cara aku berpakaian. Dia tidak suka dengan jilbabku yang pendek. Dia meminta aku mengenakan jilbab panjang yang menutupi dadaku. Katanya jilbab yang aku kenakan saat ini justru sangat menonjolkan bentuk dadaku yang besar. Lho… So What ? Memang itu yang kuinginkan.

Atas sikapnya itu aku memutuskan mulai menjaga jarak dan lebih sering menghindar. Beberapa kali ajakannya untuk menonton aku tolak. Walau sebenarnya saat dia mengajak aku nonton di bioskop, langsung terbayang kejadian dimana dia begitu bernafsu menjilat memekku. Ingin sekali rasanya aku mengulangi kejadian itu.
Namun jika mengingat hidupku yang semakin tidak nyaman, aku kuatkan untuk tetap menolak.

“Kamu kenapa sih, gak pernah mau lagi jalan sama aku?” Tanya Dodi kesal saat aku kembali menolak ajakannya untuk nonton.
“Gak apa-apa kok. Lagi males aja.” jawabku santai. “Kalau mau jalan, kita makan aja yuk, gak usah nonton” sambungku.

Walau dengan wajah cemberut, akhirnya Dodi setuju untuk pergi makan malam. Akhirnya kami pergi ke Pondok Indah.

“Sebenernya ada apa sih Lin? belakangan sikap kamu aneh” Ujar Dodi sambil menunggu makanan pesanan kami datang. Kutatap mata Dodi lekat-lekat. Aku menimbang-nimbang dalam hati. Kubiarkan saja pertanyaannya, atau aku berterus terang saja soal perasaanku padanya yang hanya menganggap teman, bukan pacar.

Kembali Dodi mendesak dengan pertanyaannya, Kutatap lagi matanya.
“Loe beneran mau tau ?” tanyaku sambil menatap matanya tajam.
“Ya iya lah, Gak enak pacaran tapi aneh gini”. Aku mengambil nafas panjang sambil mencari kata-kata yang tepat.
“Dod, sebelumnya Sorry ya. Gue akui loe orangnya baik, lucu, ganteng. Tapi masalahnya, belakangan gue mulai merasa gak nyaman karna kayaknya gue udah gak bebas lagi sejak deket sama loe” aku berusaha mengucapkan kata-kata itu dengan sengat sopan.

Tapi tak urung Dodi tersentak kaget. “Gak nyaman gimana maksud kamu Lin?”
“Ya, belakangan loe udah berani ngatur-ngatur gue, ngatur cara berpakaian gue, ngatur dengan siapa gue bisa berteman, ya gitu deh. Buat gue itu udah bikin gue gak nyaman” jawabku dengan suara yang kucoba sedater mungkin.
“Lho… wajar donk, namanya juga orang pacaran.. “
“Nah, itu dia masalahnya “ tukasku memotong ucapannya.
“Loe terlalu gegabah menganggap kita pacaran. Sementara gue cuma menganggap loe sebagai teman dekat gue. Gak lebih gak kurang Dod” Dodi tampak terkaget-kaget mendengar ucapanku.

“Cuma teman ?… trus, gimana dengan hubungan kita selama ini…” tanya Dodi seperti tidak bisa menerima ucapanku.
“Hubungan yang mana….” tanyaku belaga bego”
“Ya hubungan kita. Ciuman-ciuman kita… trus … yang di bioskop…” Aku tersenyum geli melihat Dodi mencak-mencak begitu.

“Dod, ciuman sama loe emang nyaman buat gue. Apalagi kejadian yang di Bioskop. Jilatan loe emang bener-bener hebat. Gue sampe menggelapar waktu itu Dod. Tapi itu kan gak berarti lantas gue jadi pacar loe? Itu kan hubungan sama-sama enak. Memek gue enak loe jilatin, loe juga dapet rejeki bebas jilatin memek gue. Kurang apa Dod? cukuplah hubungan kita sebatas itu aja. Jangan berharap lebih lagi. Soalnya menurut gue itu udah lebih banget. Coba… sampe memek gue aja gue kasih, kurang gimana lagi hayo.”

Dodi tampak geram mendengar ucapanku. Lalu dengan suara berat dia lanjut bertanya.
“Jadi… bukan cuma aku yang kamu kasih jilatin memek kamu?” Aku menatap tajam matanya mendengan ucapannya yang menurutku cukup kurang ajar.
“Itu urusan gue. Loe gak perlu tau!” ujarku ketus sambil tetap menatap matanya dengan tajam.

“Hh! gak nyangka Lin. Kamu gak beda sama perek-perek dijalan. Percuma kamu pake jilbab. Mending telanjang aja kamu!” Dodi memakiku sambil bangkit dan beranjak meninggalkan aku sendiri di rumah makan itu.

Aku cukup sakit hati mendengar ucapannya. Laki-laki ! Waktu dia berusaha menelanjangi tubuhku apa pernah dia berpikir seperti itu. Saat sudah gak dapet memek lagi, langsung pandangannya berubah. Dasar !

Malam itu aku pulang sendiri. Hatiku gundah, sedih, sakit… Belum pernah aku dihina seperti ini. Mantan-mantanku dulu tak pernah menyakitiku seperti ini.
Besoknya aku tak melihat Dodi di kantor. Besoknya lagi juga tidak. Hari ketiga dia muncul menghadap HRD dan mengajukan pengunduran dirinya. Lalu dia pergi tanpa berpamitan denganku.

Meski begitu, tetap saja rasa sakit hatiku belum bisa hilang. Jika kuingat lagi ucapannya di restoran malam itu, hatiku benar-benar seperti di sayat-sayat.
Untunglah beberapa hari kemudian ada karyawan baru yang ganteng dan bertubuh atletis. Tidak membutuhkan waktu lama aku sudah akrab dengan Torik karyawan baru tersebut.

Sudah 2 hari berturut-turut kami makan siang bersama. Bukan itu saja, sudah 2 hari berturut-turut pula aku diantar pulang dengan mobilnya.

Di hari ke 3, bertepatan dengan akhir pekan, Torik mengajakku jalan-jalan dulu sebelum pulang. Aku setuju saja. Bagaimana mungkin aku menolak ajakan cowok ganteng seperti Torik. Apalagi badannya juga bagus sekali, terutama bagian bokongnya yang terlihat begitu kencang.

Ternyata Torik membawa mobilnya menuju Ancol. Ah… Ancol. Teringat aku pada pengalaman pertamaku ngisep kontol. Di ancol inilah pertama kali aku belajar ngisep kontol pacarku waktu kuliah dulu.

Torik memarkir mobilnya di tempat sepi. Sama seperti kejadian dengan pacarku dulu. Membayangkan hal itu aku sudah panas dingin duluan.
Torik memarkir mobil tanpa mematikan mesinnya. Lalu tanpa ba bi bu dia langsung mencium bibirku. Ah… sudah nafsu rupanya. Aku tidak mau tinggal diam, kuladeni ciumannya dengan menjulurkan lidahku kedalam mulutnya. Ugh… cepat sekali birahiku naik. Kupeluk erat tubuh Torik sambil kubisikkan kata-kata …
“Sayang… pindah kebelakang aja yuk….” Torik tersenyum penuh semangat mendengar ajakanku. Tak menunggu lebih lama lagi kami langsung pindah ke kursi belakang.

Begitu sampai di belakang Torik langsung membuka jilbabku. Kemudian diserangnya leherku yang jenjang dengan jilatan-jilatannya yang membuat aku menggelinjang birahi.

Tangannya tak tinggal diam, satu-persatu kancing kemejaku di preteli. Kemudian di lepaskannya kemejaku dan dilemparkan ke lantai mobil. Setelah itu lidahnya langsung pindah menuju bukit dadaku yang hampir melompat keluar dari BH ku. Tidak puas menjilati bukit dadaku, Torik membuka kait BH ku dan merenggutnya hingga lepas dan terbang entah kemana. Setelah itu lidahnyapun mendarat di putting susuku yang sudah tegak mencuat dan keras.

Aku terhenyak nikmat merasakan sedotan bibirnya pada putting susuku. Aaaaaagh….. aku kangeeeennnn sama beginian…

Aku didorong hingga terlentang di jok mobilnya. Kemudian jilatannya bergeser menuju perutku. Terus turun lagi sampai perut bagian bawah… Oghhh… aku tidak tahan. Pasti memekku sudah banjir.

Dengan penuh nafsu Torik membuka resleting celana panjangku, lalu menarik lepas celana berikut celana dalamku. Dan bugil lah aku.

Kemudian Tork bangkit duduk untuk membuka seluruh pakaiannya. Dan wooooowww…. kontolnya…! Besaaaarrr…
Memekku sampai berdenyut-denyut melihat kontol Torik yang mengangguk-angguk seolah memanggilku untuk menghisapnya.

Dengan tidak sabar Torik melebarkan kakiku sampai terpentang ngangkang. Kemudian dia menindih tubuhku. Sepertinya nafsunya sudah sampai di ubun-ubun. Gerakannya begitu bersemangat.

Kurasakan kontolnya mulai berusaha menerobos lubang memekku. Oh Gawat !
“Sayang… jangan dimasukin! aku masih perawan !..”

Tapi sepertinya Torik tidak perduli. Dia mencium bibirku dengan ganas, dan kontolnya terus berusaha menyodok lubang memekku.
“Jangan… oghhh… jangan….. digesek-gesek diluar aja….” erangku antara menolak dan ingin.

Sodokan kepala kontolnya benar-benar nikmat. Aku hampir tidak kuasa lagi untuk menolak kenikmatan ini.
Ditengah kebimbangan antara takut kehilangan perawan dan rasa nikmat yang luar biasa, tiba-tiba…
Creeet… Creeeet… Creeeet… Terasa memekku disiram dengan semburan-semburan hangat dari kontolnya.

Aaaah… rupanya Torik begitu bernafsu sampai-sampai sudah keluar sebelum tiba di tujuan. Syukurlah… perawanku selamat.

Cepat kudorong tubuh Torik yang sudah lemas, kemudian segera kubersihkan air mani Torik dengan Tissue yang sudah tersedia dimobilnya.

Buru-buru kupakai celanaku. Soalnya aku tidak yakin bisa menolak jika nanti Torik minta lagi. Segera aku pindah ke kursi depan menunggu Torik selesai berpakaian. Aku mengajak Torik segera pulang.

Pos ini dipublikasikan di Dunia Kerja dan tag . Tandai permalink.

4 Balasan ke Ke Ancol lagi

  1. Prince berkata:

    Yah,sis…g smpet nyedot y?
    Pdhal aq dah ngbyangin sis nydot kontol mpe muncrat dmulut sis lho…

  2. Prince berkata:

    Sis,diaryx g dtulis tiap hari y?
    Aq nunggu2 lho…

  3. BukuHarian berkata:

    @prince: sabar… sabar… pasti aq tulis lg

  4. Prince berkata:

    Ditunggu lho sis…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s